logo

reklam
11 October 2013

Kuis Kebangsaan RCTI, nafsu berkuasa menghalalkan segala cara

Pemilu 2014 sudah di depan mata. Waktu 6 bulan yang tersisa menjadi sangat cepat terutama bagi para kontestan. Tensi persaingan pun semakin sengit. Tak hanya para calon anggota legislatif yang semakin all out mengeksekusi strategi, para calon presiden-wakil presiden baik yang masih sekedar wacana, mengikuti konvensi maupun yang sudah definitif diusung oleh beberapa partai semakin militan menjual diri di depan masyarakat calon pemilih.

Tak ada tujuan lainnya kecuali satu yakni meraih popularitas semaksimal mungkin demi mendongkrak elektabilitas setinggi mungkin. Segala cara dan upaya gencar dilakukan demi meraih kemenangan. Bentuknya pun beragam, tapi yang terbaru dan cukup menggelikan adalah cara yang dilakukan duet Hanura yakni Wiranto-Hary Tanoe.

Tayangan langsung Kuis Kebangsaan WIN-HT di RCTI tanggal 11 Oktober 2013.

Melalui layar kaca RCTI, WIN-HT, begitu duet Hanura tersebut disapa, menjual diri mereka lewat sebuah program bagi-bagi uang berjudul “Kuis Kebangsaan”.

Tayang secara langsung 2 kali sehari pada pagi dan sore, Kuis Kebangsaan WIN-HT mengusung jargon unggulan mereka yang menjadi password para peserta kuis. Dipandu seorang host wanita berparas cantik dan seorang narasumber sang pembawa pertanyaan, Kuis Kebangsaan WIN-HT dikemas layaknya kuis berhadiah yang kerap mengisi sejumlah tayangan siaran langsung olahraga atau promo komersial produk tertentu.

Penelepon yang hampir dipastikan akan mendapatkan hadiah uang dipersilakan memilih salah satu huruf dalam susunan “W-I-N-H-T” yang ditampilkan oleh layar. Di setiap huruf terdapat sebuah pertanyaan yang menguji wawasan masyarakat tentang Indonesia. Mengapa setiap peneleponnya hampir dipastikan mendapatkan hadiah uangnya?. Karena kuis ini rasanya memang bertujuan untuk membagikan uang secara cuma-cuma dengan dalih kuis Kebangsaan. Pagi ini misalnya, seorang penelepon mendapat pertanyaan tentang makna perisai pada lambang burung Garuda. Ada 3 pilihan jawaban yang diberikan, pada kesempatan pertama sang penelepon salah menjawab, lalu sang host mengarahkan untuk memilih lagi. Pilihan kedua pun masih salah, tapi dengan sangat baik hati sang host mengarahkan penelepon untuk memikirkan jawaban lain yang tersisa dan dipastikan itu adalah jawaban yang benar.

Sang pemberi pertanyaan Kuis Kebangsaan WIN-HT selalu memekikkan jargon WIN-HT sebelum membacakan pertanyaan untuk penelepon. Tak usah khawatir tak mendapatkan hadiah uang karena jika salah menebak, sang host akan mengarahkan ke jawaban yang benar.

Dengan mengangkat tema Kebangsaan, kuis WIN-HT ini tampak sangat mulia. Namun rasanya bagi-bagi uang ini tinggal menunggu waktu saja untuk menjadi polemik atau setidaknya menimbulkan perdebatan miring di tengah masyarakat.

Bagi orang yang awam politik seperti saya, bagi-bagi uang ala WIN-HT ini mungkin belum bisa tegas dikategorikan sebagai politik uang. Tapi masyarakat sebenarnya bisa dengan mudah dan tepat membaca maksud dibalik “Kuis Kebangsaan” WIN-HT di RCTI tersebut. Kuis Kebangsaan WIN-HT di RCTI mungkin bisa dipersoalkan.

Satu yang pasti kuis tersebut menegaskan bahwa media terutama TV di Indonesia tak mungkin bebas dari kepentingan politik. Hal yang mungkin bisa dimaklumi tapi pantas juga disayangkan. Cara jual diri ala WIN-HT tersebut semakin mengaburkan batas antara sosialisasi dan kampanye, dua hal yang selama ini banyak diperdebatkan karena meski telah didefiniskan namun kenyataannya bentuk praktik keduanya tak jauh beda.

“Kuis Kebangsaan” WIN-HT juga bisa merusak layar TV Indonesia menjelang pemilu. Jika tak dikaji secara mendalam, bukan tidak mungkin praktik “jual diri” dengan membagikan uang berkedok kuis seperti ini akan diikuti stasiun TV lainnya yang berafiliasi dengan calon presiden-wakil presiden lainnya. Jika ini terjadi serangan fajar yang membagikan uang sebesar Rp 20.000 tak lagi seberapa dengan serangan pagi dan sore yang membagikan ratusan ribu rupiah ini. Kesannya pun lebih bermartabat karena uang itu adalah “uang kebangsaan”.

Politik Indonesia memang “kreatif” dan tak pernah kehabisan cara untuk meraih kemenangan.

(Hendra Wardhana/kompasiana/ii)

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0 (from 0 votes)
Share
  • Post a comment

    Threaded commenting powered by interconnect/it code.